Chinatown dan Mustafa Centre, Tempat Murah Membeli Oleh-Oleh di Singapura

0
266
Chinatown adalah tempat populer membeli oleh-oleh.

Begitu tahu saya akan berangkat ke Singapura dalam rangka tugas pada bulan lalu, Ramdania, teman sekantor saya, mengatakan bahwa saya harus ke Mustafa.

“Itu tempat beli oleh-oleh yang lengkap dan semuanya ada, kayak Tip Top,” ucapnya meyakinkan.

Itulah yang selalu teringat kala saya akhirnya menginjakkan kaki di Singapura untuk pertama kalinya pada 16 Oktober 2019. Saat berbincang dengan Aysha, humas Shopee yang memandu selama kunjungan, dia menyarankan agar kami ke Mustafa Centre pada esok hari, setelah rangkaian acara liputan selesai.

Namun sore hari, Daurina, teman kamar sebelah saya yang juga wartawan Vivanews, mengajak ke supermarket. Saya setuju dan kami keluar dari Royal Park Hotel on Pickering sambil berjalan kaki. Ternyata enak juga di Singapura, ke mana-mana berjalan kaki dan udaranya tak kotor atau menyesakkan paru-paru. Daurina rupanya sudah tiga kali ke Singapura. Dia menjadi semacam pemandu bagi saya yang norak sekali. Berbekal Google Maps, kami mantap menuju Chinatown.

Kesan pertama saya, Singapura benar-benar kota yang rapi dan tertata. Di sepanjang jalan menuju Chinatown, saya menemukan masjid dan restauran-restauran yang ramah menawari kami untuk masuk. Ada pula jajaran street food yang menjual berbagai macam gorengan dan teh tarik. Namun, tentu saja saya tak berani mencobanya. Meski daging sapi, siapa yang menjamin wajan mereka juga tak dipakai untuk memasak makanan yang tidak halal. Memang, halal food menjadi concern saya. Saya selalu bertanya, atau memastikan sebelum membeli, bahwa yang saya makan adalah makanan halal. Tidak sulit membedakannya, meski bukan negara yang menganut halal tourism, Singapura sangat memperhatikan kenyamanan wisatawannya.

Pemandangan unik jendela di Chinatown

Setelah berjalan sekitar 15 menit dari hotel, sampailah kami di Chinatown. Kesan pertama saya, mirip Asemka, meski tentu saja dalam versi lebih bersih, teratur, dan nyaman. Harga barang di sini murah-murah dan jangan takut dengan kendala bahasa, karena di setiap barang ada harganya. Lost in language rasanya tak akan terjadi. Namun, mau menawar di sini agak susah karena biasanya harga sudah pas. Selain itu, pedagangnya juga agak mirip di Glodok, karena agak memaksa. Saya sempat kaget ketika ditawari tas murah 7 buah hanya 9 dolar. Menurut si pedagang, saya tak akan menemukan harga semurah itu lagi di tempat mana pun di seluruh Chinatown. Saya hanya berkata, “I’m to much shopping” sambil buru-buru kabur dari pedagangnya. Namun tentu saja, kami tak melewatkan kesempatan untuk berfoto-foto di sini.

Pada malam harinya, saya dan Daurina kembali berpetualang. Rasanya senang sekali menemukan teman yang mau diajak nekad bersama. Kami sepakat menuju Mustafa Centre di Jalan Besar Street. Dari stasiun Chinatown, kami naik MRT ke Stasiun Jalan Besar. Menurut Google maps, dari sana menuju Mustafa Centre, kita-kira ada 700 meter. Namun ternyata, kami salah tap. Entah bagaimana ceritanya, kamu justru masuk ke harus men-tap kartu dua kali, yang mengakibatkan uang dalam tiket MRT kami habis. Kami pun terpaksa mengisi ulang kartu lagi.

Suasana MRT di Singapura

Dari Chinatown ke Jalan Besar, hanya berjarak dua stasiun MRT. Di dalam kereta penuh sekali, karena memang baru pukul 20.00 malam dan sepertinya itu adalah waktu pulang kerja di Singapura. Yang menarik, kamu menemukan orang Indonesia yang bekerja di sana. Saat berbincang dengannya, ternyata logat bahasa Indonesianya sangat Jawa.

Suasana berbelanja di Mustafa Centre

Mustafa Centre benar-benar toko serba ada. Mulai dari bumbu segala macam, ikan basah dan ayam, bra dan celana dalam, tas dan koper, alat elektronik hingga pengecas hp, t-shirt, baju, juga kain sari ada di sini. Jangan lupakan juga cokelat yang berjejer-jejer dan kosmetik. Pelayannya ada dua jenis: ras India dan Melayu. Soal harga harus hati-hari karena tak selalu murah. Namun, Mustafa Centre menyajikan rentang harga yang cukup bervariasi. Dengan 6 lantai dan buka 24 jam, Mustafa Centre hampir ramai sepanjang waktu.

Tak terasa kami di sana sampai pukul 22.30. Tapi kemeriahan masih saja bersisa. Kami memutuskan untuk minum lalu, tapi karena tak kunjung dilayani di sebuah warung nasi lemak, kami memutuskan pergi. Belakangan saya tahu kenapa ketika saya berbahasa Inggris, saya seperti dicuekin. Seorang teman mengatakan agar saya memakai bahasa Melayu saja, karena Melayu merupakan bahasa kedua di sana.

Suasana Little India saat malam hari

Berjalan-jalan di kota yang asing rupanya cukup membingungkan. Bukannya kembali ke stasiun awal, kami justu melalui kawasan yang disebut Little India. Penjual sayuran dan minuman kecil di sana justru mengingatkan saya pada suasana Pasar Minggu. Akhirnya, setelah kebingungan dan tengok kanan-kiri, saya menemukan stasiun Farrer Park. Di depan stasiun tertera berbagai destinasi yang bisa kami kunjungi di Little India. Sayang sekali hari sudah malam jadi saya tidak bisa mengeksplorasi semuanya. Di sini tercatat banyak kuil, termasuk Shree Lakshminarayan Temple, Sri Srinivas Temple, dan Leong San Temple. Ada pula gereja dan masjid.

Akhirnya kami sampai juga di hotel. MRT sudah tak begitu ramai. Saya dan Daurina mampir dulu ke street food untuk membeli Thai Tea. Suhu malam Singapura sangat gerah, ditambah kami berjalan cepat-cepat. Saya terpikir untuk mandi, tapi ternyata saya tertidur tak lama setelah salat Isya dan berganti baju.

Kirim Tanggapan