Perempuan dan Tantangan Memelihara Kebudayaan

0
210
Gubernur Anies Baswedan ketika nyaba ke LKB pada Senin, 9 Desember 2019

Awalnya saya tak mengerti kenapa setiap kali bicara soal pemberdayaan perempuan, selalu saja muncul soal ekonomi. Kegiatan ibu-ibu seolah diidentikkan dengan urusan “ibu-ibu bisa buat ini di rumah untuk mendapatkan uang”. Saya pernah menulis satu artikel pendek di blog saya perihal pemberdayaan perempuan harusnya dimulai dari satu isu serius: pendidikan.

Tulisan itu pulalah yang akhirnya mengantarkan saya menjadi peserta dalam focus grup discussion (diskusi terpumpun terbatas) yang digelar oleh Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan di Hotel Harris Vertu Harmoni pada 22 Oktober 2019. FGD ini mempertemukan banyak pihak yang terlibat dalam pemberdayaan perempuan. Mulai dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Sosial, Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Bekraf, PNM Meekar, serta berbagai perempuan dari lembaga atau komunitas mandiri.

Salah satunya ada Batik Palbatu, Perempuan Puisi, dan Belantara Budaya. Mereka ada dalam satu grup bersama saya dan berbincang mengenai hambatan-hambatan perempuan dalam mengekspresikan dirinya dan melestarikan budaya melalui pariwisata.

Saat itu, saya baru mengerti, ooh, ternyata ini sebabnya kegiatan perempuan seringkali dikaitkan dengan masalah ekonomi. Perempuan menjadi sendi dan faktor utama penggerak, termasuk dalam pendidikan dan ketahanan keluarga. Mungkin kita menganggap sepele keahlian kecil, seperti membuat kembang goyang, nasi uduk, biji ketapang, atau membatik. Namun, nilai dari kegiatan ekonomi yang mereka hasilkan tak main-main karena bisa untuk membayar sekolah anak, membayar tagihan listrik, dan menghidupi keluarga.

Meski demikian, dalam diskusi tersebut para peserta sepakat masih ada hambatan. Salah satunya, perempuan seringkali merasa kehabisan waktu. Banyak hal yang rasanya harus dilakukan perempuan, sehingga akhirnya perempuan justru tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Bahkan, ketika perempuan harus mementingkan dirinya, ia akan dicap egois dan tak memikirkan keluarga. Dalam FGD yang saya ikuti pun, perempuan dituntut menjadi aspek penting dalam menemukenali dan menjaga kelestarian budaya. Astaga, berat sekali!

Di era revolusi 4.0 yang katanya serba digital ini, peran perempuan menjadi lebih meningkat lagi. Salah seorang narasumber menyebutkan di Padang, perempuan berdaya dari rumah karena rumah dianggap sebagai pusat. Seorang ibu bisa menjadi pengusaha sukses dari beranda rumahnya yang dijadikan dapur dan rumah makan, Bahkan, rendang kemasan buatan dia sukses secara komersial hingga keluar negeri, dijadikan bekal dalam umrah atau haji. Sementara di Jawa, menurut beliau, perempuan memang tidak tampil di depan, tapi perannya sentral. Keputusan apa pun diputuskan oleh perempuan atau Bu Nyai di pesantren, terutama yang berkaitan dengan dapur. Oleh karena itu, perempuan adalah pemimpin.

Perempuan, Budaya, dan Kekuasaan

Perempuan banyak memegang peran sentral dalam pelestarian produk budaya Indonesia, bahkan hingga melahirkan kreasi baru. Misalnya dalam batik, tari, hingga kuliner. Menurut penelitian dari Kementerian Pariwisata, kuliner menjadi hal yang sangat dipentingkan dalam wisata budaya. Bahkan, menurut National Trust for Heritage Preservation, sebanyak 57 persen wisatawan sangat dipengaruhi sejarah dan budaya dalam pilihan tujuan wisata dan hanya 15 persen yang tidak.

Berdasarkan PP No 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Berencana dan Sistem Informasi Keluarga, ada 8 fungsi keluarga, yakni: Fungsi Agama, Fungsi Sosial Budaya, Fungsi Cinta dan Kasih Sayang, Fungsi Perlindungan, Fungsi Reproduksi, Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, Fungsi Ekonomi, serta Fungsi Lingkungan.

Namun agar fungsi ini berjalan baik, masih ada masalah. Salah satunya adalah akses pendidikan bagi kaum perempuan masih bermasalah di beberapa daerah di Indonesia, kaum perempuan masih termarjinalkan dan lebih banyak menghadapi tantangan untuk memimpin di ranah publik, serta masih terbatasnya kapasitas kaum perempuan untuk berpartisipasi dan mendapat manfaat dari pembangunan.

Banyak masalah yang harus diselesaikan dan ini bukan tanggung jawab perempuan seorang. Ada kampanye He for She—yang Presiden Joko Widodo ditunjuk menjadi salah seorang ikonnya. Ringkasnya, He for She adalah dukungan kaum laki-laki terhadap eksistensi perempuan, bahwa perempuan tidak dipandang sebagai seseorang yang “wani ditata”, tetapi setara, sederajat dan bahkan bisa berbagi tugas. Memang ada budaya patriarki yang menjadi hambatan, tapi ini membuktikan bahwa yang harus ditatar soal pemberdayaan bukan hanya kaum perempuan, yang utama dan lebih penting justru adalah laki-laki.

 

Lahirnya Akademi Kuliner Betawi

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa urusan kaum perempuan ini memang harus dibantu juga oleh perempuan. Banyak perempuan yang ingin mampu dan berdaya secara ekonomi, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Mungkin dia bisa membuat nasi uduk enak, tapi tak punya modal atau sudah punya usaha tapi tak bisa mengembangkan ke langkah yang lebih jauh.

Akademi Kuliner Betawi tidak hanya berusaha menjaga pewarisan resep yang autentik, tapi juga mendorong lahirnya gastronomi tourism. Yaitu suatu konsep bahwa food is part lifestyle dengan menghadirkan local products, budaya dan sejarah, cerita di balik makanan, hingga kandungan nutrisi dan kesehatan.

Tentu tidak mudah karena memerlukan kerja keras dan cerdas dalam merancang program, strategi promosi tepat sasaran, branding, dan penjualan.

Ada beberapa strategi yang bisa ditempuh, di antaranya:

  1. Pengemasan kuliner yang menarik dan pengembangan destinasi digital
  2. Menggali cerita (storytelling) kuliner yang akan dikembangkan (sejarah, cara pembuatan, kandungan di dalamnya)
  3. Menentukan pasar wisatawan yang dituju dalam penentuan branding, advertising, dan selling.
  4. Peningkatan kerja sama dengan platform digital, baik untuk pemasaran, penjualan, dan pembayaran.

Bagaimana pun, tugas besar tak bisa dijalankan sendirian. Tanpa bergandengan tangan, tak mungkin semuanya terwujud. Apalagi sudah ada beberapa kuliner Betawi yang menjadi warisan budaya tak benda. Perlu upaya serius mempelajari, mempertahankan, dan mengembangkannya agar kuliner Betawi bisa mendunia.

 

Kirim Tanggapan