Cerita Keluarga Betawi Rayakan Ramadan dan Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19

2
220
Suasana salat Idul Fitri di rumah

Lebaran 2020 ini barangkali adalah yang paling sepi sejak pertama kali saya dilahirkan 35 tahun yang lalu. Saya selalu mengingat Lebaran adalah sebuah pesta besar dan perayaan kemenangan yang menggembirakan. Anak-anak dan orang tua berkumpul memakai pakaian terbaik, saling berjabat tangan dan berpelukan tanpa ragu, berlarian dan saling tertawa, hingga keluar masuk keliling kampung untuk saling bersilaturahmi.

Namun, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Februari 2020 memaksa banyak hal berubah. Dunia kini memasuki suatu keadaan new normal alias kenormalan baru, suatu istilah yang kini terasa baru dan tengah digencar-gencarkan oleh pemerintah.

Selama satu bulan kemarin, di bulan Ramadan hingga Syawal, tentu saja kita juga memasuki situasi yang tidak biasa. Buka puasa bersama, tarawih berjemaah, pengajian, hingga salat Idul Fitri dilakukan di rumah saja. Sebagai komunitas yang guyub dan penuh dengan keakrabatan hingga kekerabatan, mulanya tentu sulit bagi orang Betawi untuk menerima tatanan baru–yakni beribadah, bekerja, dan belajar dari rumah.

Tradisi mengaji dengan kiai, mendengarkan ceramah dan khotbah, bahkan juga menghidupkan masjid dengan tadarusan hingga suara membangunkan sahur seolah-oleh menjadi hal yang dilarang. Meski demikian, karena rasa patuh kepada pemerintah, sekaligus memahami bahwa Covid-19 adalah wabah yang dengan mudah menyebar, semua kini berusaha menyesuaikan diri dengan situasi-situasi baru yang mereka hadapi.

Seperti zaman dulu, begitu saya suka menyebutnya. Barangkali suasana Ramadan kemarin terasa syahdu. Pukul delapan malam, hampir tak ada lagi suara ramai orang yang berkeliaran di lapangan maupun jalan-jalan kampung. Suasana begitu sunyi, sampai-sampai tak banyak yang berani keluar untuk sekadar jajan atau beranjangsana ke tetangga.

Semua menahan diri karena takut menularkan. Tidak ada yang tahu apakah dirinya sudah terjangkit atau menjadi carrier. Semua kerinduan untuk saling berkumpul kini diwujudkan dalam bentuk virtual.  Zoom, Video Call, dan Instagram Live menjadi media dan wadah untuk saling bertukar sapa dan cerita.

Di hari Idul Fitri pun, terpampang nyata bagaimana musibah yang terjadi menjadi suatu wahana untuk menyiapkan diri sebagai imam dan makmum sebaik-baiknya di rumah. Saya cukup beruntung karena dalam keluarga kami cukup lengkap stok–mulai dari imam, khatib, dan bilal–yang tersedia, sehingga pada akhirnya kami bisa mengadakan salat Idul Fitri dengan khusyuk dan memenuhi syarat.

Salat Idul Fitri itu dua rakaat, dilengkapi juga dengan khotbah. Imam adalah Bapak H. Sihabudin dan khatib A. Awliya dan bilal Puad Achmad. Tema khotbah musibah sebagai ujian yang harus dihadapi dengan sabar. Peserta terdiri atas keluarga besar H. Mamat bin H. Suair, dengan jumlah peserta lebih dari 20 orang dan terdiri atas empat generasi.

“Salat diadakan di rumah sesuai imbauan pemerintah dan peserta juga hanya keluarga sendiri saja. Memang sempat akan dilaksanakan di lapangan terbuka, tapi khawatir jumlah jemaah terlalu banyak, sehingga melanggar aturan yang sudah ditetapkan. Jadi diputuskan di rumah saja,” ujar Bapak H. Sihabduin yang berulang kali mengadakan rapat dengan keluarga besar perihal pengadaan salat Id.

Salat dilaksanakan tetap dengan pengeras suara, agar seperti kebiasaan yang berlangsung di Masjid Baitul Rahim, tempat biasanya keluarga besar kami melaksanakan ibadah salat tarawih dan Idul Fitri.

Usai khotbah, keluarga besar H. Mamat bin H. Suair tetap menggelar tradisi saling memaafkan dan membagi-bagikan angpau. Penganan Lebaran tak lupa menemani. Mulai dari nastar, kastengel, kue kacang, chocochips, brownies, proll tape keju, biji ketapang, kacang goreng, hingga kerupuk kulit menemani suasana hangat di Hari Lebaran. Namun di luar keluarga besar, jarang sekali tetangga datang berkunjung untuk berlebaran. Ini suasana yang berbeda dibanding tahun-tahun berikutnya.

Suasana ziarah kubur di Hari Lebaran

Sesudah menyantap ketupat, semur daging, sayur godog dan opor ayam, kami sekeluarga lanjut berziarah ke makam kakek H. Mamat di TPU Kober. Bahkan, suasana TPU Kober Kebagusan pun tampak sangat sepi di Hari Lebaran.

“Semua ada hikmahnya, sehingga kondisi apa pun harus disyukuri. Meski diuji dengan kekurangan harta, tapi pasti ada hikmah di balik setiap musibah. Termasuk untuk selalu berdekatan dengan keluarga,” ujar Ahmad Awliya, yang biasa dipanggil Willy, mengutip isi khotbahnya di Hari Idul Fitri.

2 Komentar

  1. Lebaran tahun 2020 ini sangat menyedihkan. Bahkan ada yang bilang puasa dan lebaran yang mati rasa. Yakni hilang nuansa rasa keberagamaan yg khas di tanah Betawi. Ramainya masjid dan riuhnya suasana Ramadhan.
    Dan yang menyedihkan adalah hilang rasa keakraban dan keguyuban saat saat Lebaran. Semua serba berjarak dan dibatasi.
    Hidangan khas lebaran pun sedikit hilang…. sayur godok pepaya tdk lagi sekental dulu. Ketupat pun ada hanya sebagai pelengkap. Bahkan semur daging pun hilang di meja makan.

    • Iya, Bang. Sedih Lebaran terasa tak ada bekasnya. Semoga tahun besok kita bisa merasakan suasana Lebaran yang normal kembali.

Kirim Tanggapan