New Normal, Sekilas Catatan Mengenai Situasi Pandemi Covid-19

0
2869
Liputan Lebaran zaman normal baru.

Sejak Desember 2019, virus Corona Wuhan–yang kini diidentifikasi sebagai Corona Covid-19–telah menyebar meluas ke seluruh dunia. Di Indonesia, kasus pertama ditemukan pada Senin, 2 Maret 2020. Dua orang warga Depok diidentifikasi terinfeksi virus Covid-19 melalui seorang warga asing asal Singapura.

Saya ingat betul, saat itu kami sekeluarga sudah berencana berlibur ke Garut, Jawa Barat. Pemberitaan sudah mulai ramai dengan desas-desus Covid-19 sebenarnya sudah masuk ke Indonesia sebelum bulan Maret dan kelambanan pemerintah mengatasi isu ini. Harga masker surgery melejit tinggi menjadi Rp500.000-Rp600.000 per box isi 50. Hand sanitizer merek Antis lenyap di pasaran. Belakangan, banyak perusahaan, termasuk Mustika Ratu, beralih memproduksi hand sanitizer alias penyanitasi tangan. Tanggal 8 Maret saat kami dalam perjalanan pulang menuju Jakarta dari Garut, angka penderita positif Covid-19 naik menjadi 6 orang. Kemudian pada 14 Maret, DKI Jakarta mulai memberlakukan kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah.

Kebijakan itu awalnya dikenal sebagai karantina wilayah mengikuti UU Nomor 6 Tahun 2018 mengenai Kekarantinaan Kesehatan. Beberapa negara memilih melakukan lockdown, baik penuh ataupun parsial, untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas. Indonesia pada akhirnya memilih istilah yang lebih membingungkan dalam penanganan Covid-19, yakni Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Setelah berkali-kali PSBB diperpanjang di DKI Jakarta, pada 4 Juni 2020, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan DKI Jakarta memasuki masa transisi. Di lain pihak, pemerintah melalui juru bicara Ahmad Yurianto mendengung-dengungkan istilah baru: new normal.

Saat ini, ketika tulisan ini dibuat, pasien positif Covid-19 mencapai 31.186 orang, yang meninggal 1.851 dan yang sembuh 10.498. Angka pasti tak diketahui karena buruknya sistem tracing dan tidak memadainya uji cepat untuk dilakukan secara menyeluruh. Dan, saat wabah masih belum diatasi secara tuntas, pemerintah menggencarkan istilah new normal.

Saya tak hendak berdebat apakah istilah new normal seharusnya dipadankan dengan normal baru ataukah kenormalan baru, atau malah beberapa media memadankannya dengan tatanan baru. Normal baru dan kenormalan baru sama anehnya, mengingat bahwa dua hal hal yang dimaksud itu tidak normal. Lantas, kenapa masyarakat dipaksa menerima bahwa berjauh-jauhan, saling tidak mengunjungi, tidak berkerumun, dan memakai masker adalah kondisi normal? Padahal, kita tahu, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Sementara itu, usulan tatanan baru sebagai padanan new normal didasari pada pemikiran bahwa regulasi atau aturannya-lah yang diperbarui, bukan cara kehidupannya. Seperti kata Ahmad Yurianto, juru bicara pemerintah terkait penanganan Covid-19, “”Sekarang satu-satunya cara yang kita lakukan bukan dengan menyerah tidak melakukan apa pun, melainkan kita harus jaga produktivitas kita agar dalam situasi seperti ini kita produktif namun aman dari COVID-19, sehingga diperlukan tatanan yang baru,” kata Achmad Yurianto dalam keterangannya di Graha BNPB, Kamis (28/5/2020),” seperti dikutip dari Tirto.co.id  (Arti New Normal Indonesia: Tatanan Baru Beradaptasi dengan COVID-19).

Abdul Chaer, seorang ahli bahasa dan budayawan Betawi, pernah bercanda. Menurut Abdul Chaer, zaman normal bagi orang zaman dahulu memiliki arti sebagai zaman penjajahan Belanda. Saat itu semuanya dianggap serba enak dan cocok, segala sesuatu pun dianggap berjalan normal dibanding dengan kegalauan dan situasi ketidakjelasan ekonomi serta gonjang-ganjing politik yang terjadi setelahnya.

Seperti dikutip dari Tirto.co.id, Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Batas-batas Pembaratan (1996) menyebut zaman normal sebagai “masa ketika segala sesuatu berjalan normal dibanding dengan kegalauan politik yang terjadi berturut-turut sejak 1942.”

Yang dimaksud oleh Denys Lombard adalah zaman kolonial Hindia-Belanda. Pada “tahun-tahun permulaan kemerdekaan, masyarakat akan merujuk pada masa kolonial pra-perang sebagai Zaman Aman atau Zaman Normal, seakan-akan Hindia Belanda telah menjadi tempat berlindung bagi kedamaian dan ketenangan,” tulis Frans Hüsken dalam Orde Zonder Order: Kekerasan dan Dendam di Indonesia 1965–1998 (2003).

Misbach Yusa Biran, yang lahir di zaman kolonial, dalam Keajaiban di Pasar Senen (2008) mencatat “Zaman Normal (adalah) istilah orang-orang tua untuk menyebut zaman penjajahan Belanda.” Bagi sebagian orang-orang tua yang merasa nyaman di zaman kolonial dan merasakan hidup lebih sukar di zaman Jepang dan Indonesia merdeka, zaman penjajahan Belanda pun mereka sebut sebagai zaman normal.

Merujuk pada kenyataan sejarah dan cara berpikir orang Indonesia, bukankah sangat sulit bagi pemerintah untuk memaksakan bahwa cara hidup sekarang, saat orang dipaksa beraktivitas dan tetap produktif saat segalanya tidak normal?

Ketika Idul Fitri 2020 lalu, karena tak bisa melepaskan diri dari kebiasaan dan adat istiadat selama puluhan tahun, sehingga saya tetap berkunjung ke beberapa saudara tertua. Menarik ketika mendengarkan mereka bicara dan bersumpah serapah mengenai pengetatan aturan berinteraksi selama pandemi berlangsung. Mereka tak paham dan peduli dengan istilah PSBB, physical distancing, lockdown, dan lain sebagainya. Mereka hanya yakin bahwa virus tak akan menulari asalkan rajin menjaga kebersihan, termasuk di antaranya wudu, rajin salat dan ke masjid, berzikir, dan banyak-banyak berdoa. Sisanya, hidup dan mati di tangan Tuhan.

Karena itu, jangan-jangan kepasrahan semacam inilah yang justru menjaga diri mereka dari terinfeksi. Sebab, bicara umur, mereka ini adalah golongan rentan. Makin mencengangkan lagi hari ini penularan di Nanggroe Aceh Darussalam sangat minim, bahkan nol. Dalam berita, seperti dikutip dari Liputan6.com (https://www.liputan6.com/news/read/4270113/cara-aceh-tekan-penyebaran-virus-corona-dengan-kearifan-lokal-salat-dan-berzikir?source=search), masyarakat Aceh mengakui bahwa kunci menekan penyebaran Covid-19 adalah dengan salat, berdoa, dan berzikir. Selain tentu mengikuti anjuran pemerintah untuk jaga jarak, masyarakat Aceh mengamalkan doa tolak bala dan qunut Nazilah. Bahkan bukan hanya Aceh, di Cirebon, Jawa Barat, dan Tanah Kusir, Jakarta, juga rutin mengadakan pengajian dan membaca doa tolak bala.

Masyarakat merindukan zaman normal. Oleh karena itu, jangan biarkan memori berulang. Jangan sampai puluhan tahun kemudian, anak cucu kita mengenal arti zaman normal sebagai zaman sebelum pagebluk Corona menyerang di 2020. Maka, jangan paksakan istilah new normal karena sampai sekarang mereka pun tak paham apa itu rapid test, Pasien Dalam Pemantauan (PDP), Orang Tanpa Gejala (OTG), dan Orang Dalam Pemantauan (ODP). Sebut saja, kebiasaan baru. Kebiasaan baru harus pakai masker, harus sering-sering cuci tangan 20 detik, dan harus jaga jarak karena menjaga bukan saja tertular, tapi juga menularkan.

Ahmad Yurianto menyebut, tatanan, kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat inilah yang kemudian disebut sebagai new normal. Nah, mengacu pada definisi yang disebut Yuri, istilah new normal ini harusnya bisa disederhanakan penyampaiannya alih-alih memakai diksi yang melangit.

Dalam hal ini, saya mengapresiasi sekali konferensi pers Gubernur Anies Baswedan pada Kamis, 3 Juni 2020 yang mengatakan kita memasuki “masa transisi”. Dengan menyebut transisi, Anies secara tidak langsung memberi harapan bahwa suatu saat kita akan memasuki masa normal kembali. Semoga.

Kirim Tanggapan