Regenerasi Penulis Betawi, Peluang dan Tantangan di Era New Normal

0
255
Humor Jurnalistik karya Mahbub Djunaedi

Dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki pada bulan Februari 2020, mantan jurnalis Tempo Idrus Shahab mengatakan bahwa Betawi di dalam tulisan belum menjadi kekuatan, melainkan hanya angka statistik.

Idrus mengatakan, di mata media cetak dan online, Betawi hanya eksis di dunia budaya dan seni. Tapi tidak di ranah sosial, ekonomi dan politik. Dalam politik orang Betawi tidak eksis –kecuali secara formalistis, lima tahun sekali. Itulah eksistensi statistik.

Perlu dicermati pula mengapa Betawi yang lumayan sering tereksplorasi dalam bidang kesenian dan kebudayaan, termasuk pula dihadirkan dalam sinetron dan majelis-majelis keilmuan yang bersifat keagamaan, tampaknya tak berdaya di bidang literasi. Dalam bidang sastra, tentu kita mengenal beberapa nama besar, seperti M Balfas, SM Ardan, Firman Muntaco, Zen Hae, Yahya Andi Saputra, Zeffry Alkatiri, Aba Mardjani, dan Chairil Gibran Ramadan. Sebagai penulis esai, ada Mahbub Djunaidi, Ridwan Saidi, JJ Rizal, dan Idrus Shahab. Namun tampaknya, kita masih kekurangan penulis dan regenerasi tampaknya agak mandek.

Sebab, jika kita bertanya kepada orang luar tentang Betawi, jarang di antara mereka bisa menyebutkan nama-nama penulis di atas. Betawi yang dikenal masih berupa sederetan jenis makanan, kesenian, maupun warisan budaya tak benda. Selain itu, jarang muncul nama lain yang eksis sebagai penulis Betawi di rentang usia 20-an. Kritik karya pun hanya terfokus pada nama yang itu-itu saja. Padahal, eksistensi mengenai adanya para penulis Betawi ini wajib diketahui publik agar Betawi tak disangka hanya sebagai golongan orang yang lebih suka main otot dan menyelesaikan sesuatu dengan kekuatan dibanding tukar pemikiran.

Betawi hadir, tapi ia tak tampak dipahami dengan benar, terutama oleh orang-orang yang hanya memandang Betawi dari luar. Beberapa penulis Betawi pun mencoba bergerak, menulis tentang kampungnya, tapi suara mereka tampak sayup-sayup. Sebagian besar tak terdengar karena minimnya publikasi.

Persoalan lain, ketika lomba digalakkan untuk menggairahkan dunia kepenulisan, tampak sebagian penulis agak kedodoran menggarap tema yang disodorkan, baik dalam rangkaian bangun cerita, menentukan konflik, hingga mengarap dialog yang terasa nyata dan sesuai. Pada akhirnya, ketika Pekan Sastra Betawi dilaksanakan tahun lalu, hanya satu orang pemenang yang berasal dari DKI Jakarta. Meski demikian, peminatnya ternyata lumayan banyak, mulai dari Sumatera, hingga Jawa dan sekitarnya. Beberapa, meskipun orang luar, cukup baik menggambarkan persoalan mengenai orang Betawi, meski tampak bagi saya masih kurang memuaskan.

Perasaan itu muncul karena sebagian besar cerita dari orang luar, masih menggambarkan orang Betawi sebagai kaum yang malang, gagap menghadapi kemajuan zaman, miskin, dan bernasib malang. Agak berbeda dengan kisah Firman Muntaco, yang meskipun beberapa terasa getir dan menampakkan dunia nyata orang Betawi sehari-hari ‘asyik dengan dirinya’, tapi terasa optimisme dan semangat menghadapi hidup.

Semangat inilah yang perlu dihidupi terus-menerus, bahwa di tengah pembangunan yang tampak menyingkirkan orang Betawi sebagai penduduk asli Jakarta, orang Betawi menghadapinya dengan suatu pemahaman tertentu bahwa segala sesuatunya sudah ditetapkan oleh Tuhan YME, maka rejeki dan musibah pun tak akan tertukar. Maka ironi dalam tulisan Mahbub ataupun Idrus pun menjadi asyik dan renyah untuk dinikmati.

Meski demikian, saya berpendapat perlu ada rangsangan-rangsangan tertentu agar kita bisa menciptakan lagi penulis-penulis Betawi yang berkualitas. Pertama, tentu saja, harus ada pelatihan menulis. Lembaga-lembaga yang terkait dengan literasi maupun universitas bisa menginisasi ini. Kemudian, adanya penerbitan-penerbitan hasil karya, baik berupa buku maupun jurnal. Untuk itu, perlu didirikan adanya foundation agar para penulis ini punya kesempatan untuk menerbitkan karya. Setelah itu, residensi dan pelatihan lanjutan serta tukar pikiran di skala internasional. Di sini, perlu dorongan dari pemerintah.

Selain itu, saya berpendapat banyak hal di Betawi ini yang perlu direvitalisasi atau dibuat penelitian ilmiahnya. Misalnya, bentuk-bentuk tradisi lisan, berupa syair, pantun, mantra maupun lagu-lagu. Kemudian kisah-kisah cerita rakyat atau folklor juga perlu ditulis ulang dengan pendekatan yang menarik terhadap generasi sekarang. Pernah ada cerita rakyat yang ditulis oleh Rahmat Ali, tapi itu sudah lama sekali. Sehingga perlu ditulis kembali dan diberi ilustrasi yang menarik. Juga sejarah mengenai kuliner atau nama-nama tempat (toponimi) karena masih sedikit pula yang menulis tentang hal itu. Setiap kampung punya cerita dan setiap orang bisa berpartisipasi menulis tentang kampungnya sendiri.

Saya juga sepakat dengan Ibu Grasia Azmin (Ige) dari Universitas Negeri Jakarta dan Asosiasi Tradisi Lisan, bahwa karya-karya klasik, seperti Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak, serta Hikayat Nabi Bercukur dan lain-lain, dapat pula didaur ulang dalam penceritaan masa kini yang mendekati selera pembaca zaman sekarang.

Di era normal baru, juga menarik mencermati yang dilakukan penerbit Gramedia, yakni memberi wadah bagi para penulis untuk memberikan bab-bab awal novelnya melalui media daring untuk kemudian diseleksi. Tentu memang ada juga beberapa aplikasi menulis yang gratis. Namun, Gramedia memberikan sebuah peluang bahwa jika naskah novel itu menarik, maka akan diterbitkan. Ini adalah cara beradaptasi yang juga bisa merangsang orang untuk menulis.

Pada akhirnya, semua itu akan memperkuat identitas dan imej Betawi serta memberikan gambaran yang benar mengenai siapa Betawi yang sesungguhnya. Kita tentu bisa mencetak Firman Muntaco yang baru, ataupun Mahbub Djunaidi yang baru, asalkan serius dan tak hanya bergantung pada keberuntungan atau kekuatan masing-masing tanpa mau bergandengan tangan.

 

Kirim Tanggapan