Asal-Usul Nama Daerah Kuningan di Jakarta Selatan

0
137
Sesi wawancara dengan H. Mas'ud Mardani

Kuningan merupakan salah satu daerah yang cukup terkenal di Jakarta Selatan. Di ruas Jalan HR Rasuna Said yang membelah Kuningan, berdiri banyak perkantoran, hotel, mal, tempat olahraga, hingga kedutaan besar negara asing. Jalan ini sangat sibuk karena hampir selalu macet setiap jam pergi dan pulang kerja.

Ada beberapa pendapat terkait asal-usul nama Kuningan di Jakarta Selatan. Salah satu sumber, yakni Zainuddin, yang menulis buku 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe mengatakan bahwa nama Kuningan berasal dari daerah Kuningan di Jawa Barat. Konon, orang-orang Kuningan bermigrasi ke Jakarta. Namun, tidak dijelaskan bagaimana mereka bisa bermigrasi ke sana.

Namun, hal ini dibantah keras oleh H. Mas’ud Mardani, aktivis Lembaga Kebudayaan Betawi, yang tinggal di Kuningan hingga tahun 1970-an. Menurut Babe Mas’ud, sejak lahir hingga remaja dia merasakan tinggal di Kuningan, penduduk Kuningan adalah orang Betawi asli yang turun-temurun tinggal di sana. Tentu saja ada juga suku lain, seperti suku Jawa, tapi bisa dikatakan bahwa 90 persen bahwa masyarakat Kuningan adalah orang Betawi.

Menurut keterangan Babe Mas’ud, yang sudah 5 keturunan sebelumnya dipastikan tinggal di Kuningan, hampir sebagian besar masyarakat Kuningan adalah pemerah susu. Warga menternakkan sapi, untuk kemudian diperah dan dijual susunya. Karena sapi membutuhkan pakan untuk makan sehari-hari, maka banyak tanah lapang ditanami rumput gajah. Sebagai tambahan, sapi juga diberi makan ampas tahu.

Susu sapi itu pun kemudian dijual ke daerah “ngilir”, menurut kesaksian Babe Masud Mardani. Termasuk ke Menteng, Gondangdia, Senen, dengan menggunakan sepeda, bahkan hingga ke Kemayoran. Budaya ini hilang seiring tergusurnya penduduk asli ke wilayah sekitar, mulai dari Mampang, Pasar Minggu, hingga Depok saat terjadi pembangunan besar-besaran segitiga emas Kuningan.

Teori lain terkait asal-usul Kuningan adalah daerah tersebut dijadikan tempat pengolahan besi yang berbahan kuningan, tapi teori ini sulit juga dipastikan kebenarannya.

Meski demikian, Kuningan dahulu sebelum berubah menjadi jalan raya memang berupa rawa dan sawah. Oleh sebab itu, tak heran jika di sebagian Jalan Rasuna Said  ada daerah yang terendam air saat di musim hujan. Babe Mas’ud menyebut ujung jalan dekat KPK yang terendam air adalah Kampung Pedurenan.

Kini pemandangan sore hari saat anak-anak bermain layangan, mencari jangkrik, menyabit rumput sudah hilang, karena lahan mainnya berubah menjadi Hotel JW Marriot ataupun Hotel Gran Melia.

Memang tantangan orang Betawi semakin besar karena orang Betawi kini berjuang tidak lagi mengandalkan kemurahatian yang alam berikan. Misalnya, jika dulu orang Betawi bisa tenang asalkan bisa mempunyai beras di rumahnya dan makan dengan hasil pekarangannya, sekarang orang Betawi pun harus berjuang dan menghadapi persaingan. Misalnya saja, Babe Mas’ud berkata, dulu makan sayur asem hanya berisi nangka dan papaya, beserta melinjo. Semuanya adalah hasil yang ada di kebun. Kadang-kadang ditambahi jengkol BW dan asamnya pun dari buah yang terasa asam, bukan asam jawa ataupun asam buah seperti sekarang.

Kuningan pada akhirnya menjadi contoh bagaimana orang Betawi akhirnya terpencar, tapi juga sekaligus menginvasi daerah-daerah sekitarnya menjadi wilayah kebudayaan Betawi yang lebih luas.

 

 

 

Kirim Tanggapan