Tentang ‘Rumah Ini Punya Siapa?’ oleh Zen Hae

0
347
Fadjriah

Meskipun ada sejumlah pihak yang mencoba menarik-narik atau menggolongkan Fadjriah Nurdiarsih sebagai “penulis Betawi”, pada dasarnya, dia menulis sastra Indonesia, bukan sastra Betawi. Karena itu dia mestinya digolongkan sebagai “penulis Indonesia”, bukan “penulis Betawi”. Betawi dalam hal ini hanyalah menjadi asal-usul etnis—yang tidak pernah ia meminta untuk dilahirkan di situ dan tiada pula niat untuk keluar dari terungku etnisitas itu. Semacam keterangan tempat atau kata sifat kedua. Jika pihak-pihak yang mencoba menarik-narik dan menggolongkan tadi tidak rela, bolehlah Fadjriah disebut sebagai “penulis Indonesia beretnis Betawi”.

Apa yang sedang kita hadapi sekarang ini, yakni kumpulan cerpen Rumah Ini Punya Siapa? (Pustaka Kaji, 2020) karya Fadjriah adalah sehimpunan cerita yang mencoba menjadikan masalah orang Betawi sebagai salah satu fokus cerita saja. Lebih dari itu, dia bercerita tentang masyarakat urban di Jakarta, yang di dalamnya terseret juga orang Betawi. Dia memang bercerita tentang Haji Salim, Ustazah Rahma, Sakinah, Pok Ameh, Udin, Sofyan, dan orang-orang Betawi lainnya—yang rata-rata tidak beruntung dalam menghadapi modernisasi kota Jakarta. Tetapi, Fadjriah juga bercerita tentang Sarah, Pertiwi, Maria Carolina, Sri, Seruni dan Dara, perempuan Tionghoa tanpa nama—yang juga bernasib malang, karena satu dan lain hal.

Yang mempersamakan mereka adalah penderitaan. Tokoh-tokoh cerita Fadjriah adalah orang-orang yang kalah dalam pertarungan hidup. Dan boleh dibilang, wilayah pertarungan yang menentukan hanya dua: rumah tangga dan dunia luar-rumah. Keduanya sama-sama mematikan. Jika seorang tokoh kehilangan kehormatan di mata anggota keluarganya—karena ia itu suami yang kawin lagi atau anak yang kelewat merongrong orang tua—di tempat lain kita akan menemukan juga suami atau ayah yang kehilangan kerja, ibu dan anak yang bunuh diri karena kemiskinan, hingga warga yang kalah suara di rapat RT.

Namun, Fadjriah termasuk pengarang yang lebih banyak mengolah dunia domestik, kehidupan rumah tangga, ketimbang dunia sosial di luarnya. Itulah kenapa ia kerap memasang tokoh perempuan. Jika pun dia memotret persoalan hidup di luar rumah, tokoh-tokoh perempuan itu tetap hadir dan hampir selalu sebagai tokoh utama. Dia, dengan begitu, membawa suara perempuan sebagai suara dominan dalam karyanya—dengan kadar feminisme yang bisa menjadi pokok bahasan tersendiri.

Menggarap dunia rumah tangga yang akrab secara psikologis membuat Fadjriah mengulang atau menggarap tema yang mirip satu sama lain. Kisah tentang anak-anak yang merongrong orang tua bukan hanya kita temukan pada cerpen “Anak-Anak Ustazah Rahma”, tetapi juga dalam cerpen “Rumah Ini Punya Siapa?” Ayah yang kawin lagi atau tradisi menjodohkan anak perempuan diceritakan di sejumlah cerpen. Dan semua itu terjadi dalam kehidupan orang Betawi.

Dalam kasus ini, Fadjriah bermain-main dengan stereotip dan klise. Dia menggarap sesuatu yang sudah dianggap menjadi ciri-ciri tetap suatu kaum. Bahwa poligami dilakukan oleh orang Betawi, itu juga terjadi di banyak kaum non-Betawi selama mereka masih menggunakan dalil Quran untuk menjustifikasi tindakan itu. Begitu juga dengan tradisi menjodohkan anak perempuan atau pertikaian di antara keluarga karena soal warisan. Belum lagi soal tradisi beserta takhayul yang melingkupinya. Dengan stereotip Fadjriah mencoba mencari pokok cerita yang akrab dan nyaman untuk diceritakan. Semua itu sudah menjadi pengetahuan bersama orang Betawi. Dengan kata lain, dia tidak ingin mengguncangkan khazanah emosi atau pengetahuan pembaca dengan cerita yang “asing” atau tidak berkaitan dengan kehidupan mereka.

Fadjriah kemudian tidak punya cara lain kecuali menjadikan realisme sebagai acuan utama. Dengan realisme, pembaca akan lebih mudah mengambil alih fiksi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Tetapi, realisme juga bersoal dengan hukum kesesuaian antara fiksi dan kenyataan sehari-hari yang menjadi sumbernya. Masalahnya: Seberapa lihai pengarang menggarap perincian kisah? Bagaimana latar tempat dan waktunya? Apakah pelukisan watak tokohnya cukup masuk akal untuk menggambarkan orang Betawi? Pertanyaan besarnya: Apakah pengarang melukiskan dunia kisah yang sepenuhnya bisa dikembalikan ke dalam dunia keseharian?

Namun, dengan realisme itu kita juga mendapatkan sesuatu yang masih berharga. Dari 20 cerpen dalam buku ini, cerpen “Anak-Anak Ustazah Rahma” dan “Pada Suatu Hari Minggu” adalah cerpen-cerpen yang paling menarik perhatian saya. Cerpen “Anak-Anak Ustazah Rahma”, misalnya, berhasil melukiskan dunia batin seorang ustazah yang dirongrong oleh anak lelakinya. Soalnya mungkin agak klise: Anak yang merongrong orang tua dan memaksa sang ibu menjual tanah dan rumah warisan keluarga mereka. Tetapi, Fadjriah bisa menggambarkan tegangan yang berlapis-lapis. Misalnya, antara si ibu dan keluarga suaminya, si ibu dan jemaah pengajiannya, si ibu dan calon pembeli tanahnya, si anak dan saudaranya, juga yang paling pokok: si anak dan ibunya.

Yang juga menarik adalah bagaimana orang yang kalah dalam cerita ini tidak bisa diselamatkan dengan ayat-ayat Kitab Suci atau janji surgawi, tetapi dia akan kalah begitu saja di tengah belitan kemiskinan dan kelicikan orang-orang di sekitarnya. Dengan kata lain, pengarang telah menahan nafsunya untuk menceramahi pembaca, meskipun ia sebenarnya memasang tokoh utama seorang ustazah. Dia justru ingin menampilkan ironi yang getir dari kehidupan seorang pendakwah. Bahkan, Tuhan pun tak mengulurkan tangan untuknya.

Sementara “Pada Suatu Hari Minggu” berkisah tentang sindiran yang sangat menohok antara kehidupan pejabat lokal yang penuh glorifikasi dan kemunafikan dan kehidupan kaum miskin yang tanpa harapan. Meskipun kisah ini, mungkin, pernah kita dengar dalam versi yang sedikit berbeda di media massa, pengarang masih berusaha menyelamatkan tokoh-tokohnya dari perangkap realisme. Yakni, dengan memainkan sudut pandang penceritaan, yang tidak sekali pun meminta simpati pembaca di satu sisi dan memberikan kita pukulan telak di jantung ketika kita menyaksikan mereka yang miskin terpaksa bunuh diri, sementara tidak jauh dari rumah mereka sebuah partai pemenang pilkada akan merayakan ulang tahunnya. Kritik sampai bukan dengan caranya yang lantang, tetapi dengan sindiran saja. Ironi yang tajam mengalahkan kutukan dan teriakan akan betapa busuknya kekuasaan.

Sesekali Fadjriah bermain-main dengan kisah yang surealistik, baik yang dipungutnya dari legenda urban maupun kasus-kasus kejiwaan yang umum. Berbagai penampakan takhayul, kekuatan animisme dan dinamisme, masih menjadi bagian penting dalam kehidupan orang Betawi.  Apa yang kita temukan dalam “Batu Merah Delima”, “Laki-Laki yang Bercinta dengan Buaya” atau “Matinya Kucing Belang Tiga” adalah serangkaian upaya untuk membuat legenda urban itu hidup lagi sebagai bagian dari dunia keseharian pembaca. Kekuatan ajimat, orang yang bercinta dengan buaya atau kucing mati yang bereinkarnasi sebagai perempuan hamil adalah soal-soal yang pada akhirnya menyadarkan kita bahwa banyak hal absurd dalam hidup kita dan kita menerimanya sebagai bagian yang sah dari kehidupan ini. Tidak diperlukan upanya menginvestigasi nalar cerita surealistik itu, baik dengan alasan keagamaan maupun intelektualitas.

Namun, pada “Udin Memutuskan Mati” yang sedikit berbeda adalah karena yang aneh bukanlah karena kekuatan hantu dan makhluk gaib, tetapi jiwa manusia yang kelam dan tidak terpahami sepenuhnya. Suara batin yang menyuruh si pemilik tubuh bunuh diri adalah tanda-tanda sakit jiwa yang serius, tetapi dalam cerpen ini sudut pandang penceritaan tidak mendorong kita untuk memvonis Udin, tokoh utama cerita ini, sakit jiwa. Pencerita membiarkan suara batin yang gelap dan mematikan itu mengendalikan Udin. Pada akhirnya kita tahu, kasih sayang seorang ibu juga tidak berhasil menyelamatkannya.

Sekali lagi, Fadjriah tidak memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh ceritanya untuk membawa cerita menjadi berakhir bahagia. Yang hancur biarlah hancur dan kita menikmati kehancuran itu sebagai bagian dari pesona kisah itu sendiri. Itulah posisi penting yang diambil Fadjriah. Satu posisi yang cukup berani di tengah pengarang yang kerap menghidupkan pesan moral dan dakwah dalam cerita mereka. Dengan begini, Fadjriah telah berjalan dalam rel kepengarangan yang benar.

Di luar itu, cerpen-cerpen Fadjriah masih bersoal dengan bentuk dan anasir dalamannya: mulai dari cerita yang adalah salinan dari kisah pergundikan di Hindia Belanda dan dunia tawanan aktivis Gerwani, hingga tokoh-tokoh yang dicomot begitu saja dari khazanah perwatakan yang ada—di samping stereotip dan klise tadi, detail kisah yang kurang masuk akal hingga kalimat-kalimat yang masih bisa disunting, lagi dan lagi, juga tegangan antara ragam cakapan Betawi dan keresmian bahasa Indonesia. Semua itu membutuhkan lebih dari sekadar hasrat “menghibur pembaca” atau berurusan dengan “regenerasi penulis Betawi”.

Tugas utama seorang penulis adalah menulis—sebaik yang dia bisa—dan interogasi pertama yang harus diajukan kepada penulis adalah “Apakah anda bisa menulis atau tidak?”, bukan “Anda menulis apa?” Soal-soal di luar keperajinan itu, bagi saya, boleh ada boleh tidak.

 

 

Kembangan Selatan, 22 Januari 2021

 

 

 

 

Kirim Tanggapan