Dodol, Kue Betawi yang Mempererat Silaturahmi dan Kekerabatan

0
219
dodol betawi

Bicara soal Lebaran, tentu saja kita akan bicara mengenai makanan khas yang tersaji di meja saat hari raya umat Islam itu. Salah satunya adalah dodol. Makanan ini sangat legit, manis, nikmat, dan dikangeni, terutama saat Lebaran.

Dodol adalah makanan ringan dengan bahan dasar gula dan tepung ketan yang dimasak hingga kental dan lengket. Biasanya dodol dibuat pada waktu tertentu, seperti menjelang Lebaran atau pelengkap pada pesta perkawinan. Hidangan ringan ini memiliki makna sebagai perekat dan simbol kelekatan antara orang yang dikunjungi dan mengunjungi.

Tidak ada yang tahu bagaimana dodol bisa hadir dalam hidangan khas Lebaran di Betawi. Meski demikian, sebagian menduga itu pengaruh Tionghoa lantaran dikenal pula adanya dodol Cina yang hadir saat perayaan Imlek.

Dodol disimbolkan sebagai tanda persatuan nasional, sebagai pertanda kebersamaan dan silaturahmi. Hal ini karena pembuatan dodol memerlukan banyak tenaga dan tidak bisa dilakukan seorang diri saja.

Dari kuliner tradisional yang berkembang di satu masyarakat suku tertentu, kita bisa memahami suatu budaya yang melatarbelakanginya. Misalnya tentang dodol, ada kisah-kisah terkait dodol yang diyakini masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Di berbagai daerah, ada beragam sebutan untuk makanan yang identik dengan dodol. Misalnya kue keranjang atau Nian Gao, wajit, jenang, lempok, gelinak, dan berbagai macam nama lainnya. Di Garut, Jawa Barat, dikenal pula dodol garut. Di Jawa, kita mengenal jenang.

Proses pembuatan dodol sendiri juga memerlukan kesabaran tinggi, sehingga membuat sebagian masyarakat Betawi enggan membuatnya. Belum lagi waktu untuk membuatnya juga sangat lama. Oleh karena itu, kini hanya persebaran dodol Betawi pun semakin terbatas. Daerah Condet dan Srengseng Sawah termasuk daerah yang masih bisa ditemukan dodol Betawi.

Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi dan Ketua Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi, menyebutkan, “Ada makanan atau kue yang dibuat untuk hari yang sangat khusus yaitu dodol. Tidak hanya dibuat untuk memeriahkan hari khusus, pembuatannya pun sangat khusus pula. Kue ini disebut juga kue silaturahmi atau kue kolektif. Disebut begitu, karena sejak permulaan pembuatannya sudah harus bersilaturahmi dengan orang lain.”

Dalam proses pembuatannya saja, dodol sudah melambangkan silaturahmi dan kebersamaan. Di masa lampau, jika ada satu keluarga di Betawi yang hendak membuat dodol, maka ia akan nyambat—atau memanggil keluarga lain untuk saling bahu-membahu dan bergotong-royong. Pembuatan dodol memakan waktu lama dan oleh karena itu diperlukan bantuan dari beberapa keluarga.

Misalnya saja, orang perempuan dan laki-laki dikumpulkan dalam tugas yang bervariasi sesuai dengan keahlian mereka masing-masing. Kaum perempuan menumbuk beras atau ketan untuk dibuat tepung, lalu memarut kelapa untuk membuat santan, atau kemudian membuat minyak kelapa.

Orang yang lebih ahli dalam urusan menimbang atau menakar, kemudian dipercaya untuk mencampur bahan-bahan agar tercipta cita rasa yang enak. Ini tentu harus diserahkan pada orang yang ahli dan tahu persis bagaimana komposisi tiap adonan agar dodol yang tercipta tidak terlalu lembek atau keras. Sebab, jika gagal, maka sirnalah upaya berjam-jam itu.

Yahya menjelaskan, proses pembuatan dodol memakan waktu cukup lama, dua hari dua malam. Pekerjaan pertama adalah belanja membeli bahan mentah untuk dodol. Selanjutnya mencari tukang ngaduk dan meminjam kawa atau wajan berukuran besar. Dulu kawa berukuran besar yang mampu menampung adonan dodol 25 kilogram hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Tukang ngaduk biasanya memahami tatacara pembuatan dodol. Perbandingannya (baik beras ketan maupun beras biasa) berkisar 1:2:4. Artinya jika beras satu kilogram, gulanya dua kilogram, dan kelapanya empat buah.

Pembuatan dodol memakan waktu cukup lama dan memakan waktu hingga 10 jam, sampai warnanya berubah menjadi keemasan.

Menurut Yahya, tidak semua orang–laki-laki atau perempuan–mahir membuat adonan dodol. ”Seorang ahli membuat dodol instingnya sangat kuat, selain memang pengalaman cukup tinggi. Perbandingan antara jumlah beras, kelapa, gula, dan sebagainya benar-benar telah ditekuni puluhan tahun meski ia tak mencatatnya. Semuanya hanya disimpan dalam ingatannya. Lagipula membuat dodol dari beras ketan akan lain cara penanganannya dibandingkan dengan beras biasa,” katanya menjelaskan.

Biasanya kegiatan sejak nampihin (membersihkan beras menggunakan tampah yang digerakkan naik turun) beras, menurunkan adonan ke kawa sampai menjadi koleh (dodol setengah masak) masih ditangani oleh kaum perempuan. Barulah setelah itu pekerjaan dilanjutkan oleh kaum laki-laki sampai dodol matang, diangkat, dan dimasukkan ke dalam tenong (wadah bundar berdiameter 20-25 cm, tinggi 15 cm terbuat dari anyaman bambu).

Setelah itu, kaum laki-laki diberi tugas untuk mengaduk dodol dalam sebuah kawa besar. Adonan dodol yang tadinya lembek lama kelamaan akan menjadi mengental dan semakin keras. Untuk itulah, diperlukan tenaga yang besar untuk mengaduk dodol.

Ada sebuah kepercayaan bahwa perlu orang yang berhati ikhlas dan tidak berpikiran kotor ketika mengaduk dodol, juga dalam keadaan bersih (tidak haid) agar dodol yang tercipta enak rasanya. Jika orang yang mengaduk dodol itu mengumpat atau memfitnah, serta berkata-kata kasar, maka akan merusak pula dodol yang dimasaknya. Filosofinya tentu adalah agar orang-orang menjaga ucapan yang keluar dari mulutnya atau berhati-hati saat berkata-kata.

Menurut Yahya, tukang ngaduk dodol adalah laki-laki yang memiliki fisik kuat, sebab membolik-balik dodol yang menggunakan gelo (alat pengaduk dodol) di kawa memerlukan tenaga yang besar. Selain itu, tukang ngaduk adalah orang yang mengerti jenis arang.

Arang yang bagus dan baik biasanya dari kayu rambutan. Sebab bila arang yang digunakan mengeluarkan asap, maka dodol yang dihasilkan berbau sangit dan rasanya bercampur asap. Ia pun mengerti berapa tingkat kepanasan bara arang di bawah kawa. Jika tingkat kepanasan bara tidak konstan, artinya terlalu panas atau kurang panas, atau tidak rata antara sisi kanan dan sisi kiri, dodol menjadi bantet (tidak masak benar) dan warnanya hitam mengeras bagai batu. Untuk kemahirannya, tukang ngaduk memperoleh bayaran yang lumayan.

Begitu jadi, dodol pun menjadi hidangan primadona untuk diantarkan saat Lebaran ke rumah sanak-saudara. Harga dodol juga cukup mahal saat ini, sekira Rp 75.000-Rp 120.000 per satu tenong, tergantung tingkat kekentalan santan dan banyaknya gula yang digunakan.

Nah, itulah sekilas kisah mengenai dodol Betawi, kue perekat kebersamaan dan silaturahmi.

 

Kirim Tanggapan